Kunjungan kapal terus meningkat, sementara dermaga dan kolam pelabuhan masih menjadi pekerjaan rumah besar.
DUMAI , 27 Juni 2026— Di tengah besarnya potensi Pelabuhan Dumai, persoalan infrastruktur masih menjadi perhatian serius. DPC INSA Kota Dumai menilai, peningkatan jumlah kapal harus diimbangi dengan fasilitas pelabuhan yang memadai.
Ketua DPC INSA Kota Dumai, Herman Buchari, S.IP, mengatakan bahwa salah satu persoalan utama saat ini adalah keterbatasan dermaga di pelabuhan umum. Kondisi ini menyebabkan antrean kapal dan berpotensi merugikan banyak pihak.
“Kunjungan kapal yang besar tidak didukung oleh infrastruktur atau dermaga yang panjang. Ini menimbulkan antrean kapal yang cukup panjang,” ujar Herman.
Menurut Herman, antrean kapal bukan persoalan sederhana. Ketika kapal harus menunggu lama, dampaknya akan menjalar ke banyak sektor. Pemilik kapal rugi, pemilik barang rugi, buruh pelabuhan terdampak, dan aktivitas ekonomi ikut tersendat.
“Pemilik kapal rugi, pemilik barang juga rugi, buruh juga rugi. Semua pihak bisa dirugikan,” tegasnya.
Herman mengakui, Dumai memang memiliki sejumlah terminal khusus milik perusahaan besar dan swasta. Beberapa di antaranya beroperasi untuk mendukung aktivitas industri dan ekspor. Namun, keberadaan terminal khusus tersebut belum cukup untuk menjawab peningkatan kunjungan kapal yang terus bertambah.
Ia menyebutkan sejumlah kawasan atau perusahaan yang memiliki aktivitas dermaga dan terminal khusus, seperti Sinarmas, Inti Benua Perkasa, OSM, SM, SAP, SDO, Semen Padang, PII, hingga Wilmar.
“Walaupun sudah ada dermaga-dermaga terminal khusus, kunjungan kapal tetap bertambah juga,” jelas Herman.
Selain keterbatasan dermaga, masalah kedalaman kolam pelabuhan juga menjadi perhatian. Dermaga umum berada di sekitar muara Sungai Dumai yang memiliki tingkat sedimentasi cukup cepat. Jika tidak ditangani, pendangkalan kolam bisa mengganggu kapal untuk bersandar.
Herman menegaskan, pengerukan kolam pelabuhan harus menjadi bagian dari perhatian utama. Sebab, jika kolam dermaga semakin dangkal, kapal besar tidak bisa masuk dan keluar secara optimal.
“Kalau dermaga dangkal, kapal-kapal tidak bisa bersandar. Kapal harus dibatasi masuk dan keluarnya. Karena itu perlu pengerukan,” ujarnya.
INSA Dumai berharap pemerintah dan instansi terkait tidak memandang persoalan ini sebagai urusan teknis biasa. Menurut Herman, infrastruktur pelabuhan adalah tulang punggung kelancaran ekonomi maritim Dumai.
Ia mendorong adanya penambahan fasilitas dermaga, pengerukan kolam pelabuhan, kemudahan perizinan, penentuan damping area, serta dukungan teknis lain yang dibutuhkan di lapangan.
“Jika fasilitas terbatas dan kolam tidak dikeruk, maka semua pihak akan dirugikan,” kata Herman.
Bagi INSA Dumai, Pelabuhan Dumai memiliki masa depan besar. Namun, masa depan itu harus ditopang oleh fasilitas yang kuat. Jika tidak, potensi besar tersebut bisa tersendat oleh persoalan klasik: dermaga terbatas, antrean kapal, dan pendangkalan kolam.
Herman berharap Pelabuhan Dumai tidak hanya dikenal sebagai pelabuhan strategis, tetapi juga mampu tampil sebagai pelabuhan modern yang siap melayani kebutuhan maritim nasional dan internasional.
“Pelabuhan besar harus didukung fasilitas besar. Dumai punya potensi itu, sekarang tinggal bagaimana semua pihak bergerak bersama,” tutupnya.
Edo Y -Masako TV
.png)