Dari Pantai Tantrayana, INSA Mengetuk Pintu Dunia melalui Dialog Seni Empat Negara

 DUMAI — Sebuah langkah besar sedang disiapkan dari pesisir Teluk Makmur. Tim International Strait Art (INSA) menggagas Perkemahan Dialog Seni dan Kebudayaan Empat Negara yang akan digelar pada 11–13 September 2026 di Pantai Tantrayana, Kota Dumai.

Kegiatan ini tidak dirancang sekadar sebagai pertunjukan atau pertemuan seremonial. INSA ingin menjadikan Pantai Tantrayana sebagai ruang hidup bagi seniman, budayawan, akademisi, sutradara, pelaku teater, dan pekerja kreatif dari berbagai daerah serta negara untuk bertemu, berdialog, bertukar pengalaman, dan membangun persahabatan lintas batas.

Ketua INSA, Tantri Subekti, mengatakan bahwa gagasan tersebut lahir dari keinginan untuk membawa budaya lokal keluar dari ruang yang terbatas dan mempertemukannya dengan kebudayaan dari berbagai negara.

“Kami tidak ingin kegiatan ini hanya selesai sebagai sebuah acara. Kami ingin Pantai Tantrayana menjadi ruang perjumpaan budaya, tempat orang datang membawa gagasan, karya, dan pengalaman, kemudian pulang dengan persahabatan serta kerja sama baru,” ujar Tantri Subekti.

Menurutnya, Dumai memiliki modal yang sangat kuat untuk menjadi salah satu pusat pertemuan kebudayaan di kawasan Selat Malaka. Selain memiliki akar Melayu yang kuat, Dumai juga berada pada posisi geografis yang berdekatan dengan negara-negara tetangga.

“Dumai tidak boleh hanya dikenal sebagai kota pelabuhan dan industri. Kota ini juga memiliki budaya, masyarakat yang terbuka, kawasan pesisir, dan posisi strategis. Semua potensi itu harus diperjuangkan agar orang datang, mengenal Dumai, lalu membawa cerita baik tentang kota ini,” tegasnya.

 

Mendapat Sambutan Pemerintah Kota Dumai

Rencana Perkemahan Dialog Seni dan Kebudayaan Empat Negara tersebut mendapat sambutan hangat dari Pemerintah Kota Dumai. Tim INSA diterima langsung oleh Kepala Dinas Pariwisata Kota Dumai, Tekat, untuk membicarakan peluang kolaborasi dalam pengembangan seni, kebudayaan, dan pariwisata daerah.

Pertemuan tersebut menjadi sinyal positif bahwa kebudayaan mulai ditempatkan sebagai bagian penting dalam strategi memperkenalkan daerah. Pantai Tantrayana tidak lagi hanya dipandang sebagai kawasan wisata di pinggir kota, tetapi berpeluang menjadi pintu masuk bagi pertemuan budaya, kunjungan wisatawan, dan kerja sama lintas negara.

Tantri Subekti menyebut dukungan pemerintah sangat dibutuhkan karena kegiatan berskala besar tidak mungkin berjalan hanya dengan semangat komunitas.

“Kami datang membawa gagasan dan keberanian. Namun, gagasan besar membutuhkan kolaborasi. Dukungan pemerintah, lembaga kebudayaan, dunia usaha, masyarakat, dan media akan menentukan seberapa jauh kegiatan ini mampu membawa nama Dumai,” katanya.

Kegiatan ini diharapkan membuka mata banyak pihak bahwa potensi daerah tidak cukup hanya disimpan atau dibicarakan. Potensi harus diolah menjadi kegiatan nyata yang mampu mengundang orang untuk datang, melihat, mengenal, dan kembali mengingat Dumai.

Menjemput Dukungan hingga Pekanbaru

Untuk memperkuat persiapan kegiatan, Tim INSA tidak hanya bergerak di Dumai. Saat berada di Pekanbaru, tim melakukan sejumlah kunjungan penting untuk membuka jaringan dan membangun dukungan kelembagaan.

Salah satu kunjungan dilakukan ke Konsulat Malaysia. Tim INSA diterima langsung oleh pihak konsulat dan menyampaikan rencana penyelenggaraan perkemahan serta dialog seni dan kebudayaan di Pantai Tantrayana.

Pertemuan tersebut menjadi langkah penting dalam memperkuat hubungan kebudayaan antara Indonesia dan Malaysia. Kedua negara bukan hanya berdekatan secara geografis, tetapi juga dipertemukan oleh sejarah, bahasa, adat, dan akar budaya Melayu.

Pihak Konsulat Malaysia memberikan respons positif dan diharapkan dapat hadir dalam kegiatan tersebut. Kehadiran perwakilan negara tetangga akan memberi makna kuat bahwa seni dan budaya dapat menjadi jembatan yang menghubungkan masyarakat antarnegara.

“Kerja sama antarnegara tidak selalu harus dimulai dari perdagangan atau investasi. Seni sering mampu membuka pintu yang tidak bisa dibuka melalui jalur formal. Melalui seni, orang saling mengenal. Melalui budaya, rasa percaya dan persaudaraan dapat tumbuh,” ungkap Tantri.

Membangun Hubungan dengan Balai Pelestarian Kebudayaan

Tim INSA juga mengunjungi Balai Pelestarian Kebudayaan dan diterima langsung oleh Lucky. Pertemuan itu menjadi awal dari hubungan kelembagaan yang diharapkan tidak berhenti pada satu kegiatan.

INSA berharap kerja sama tersebut dapat berkembang dalam bentuk pendampingan program, pertukaran gagasan, dokumentasi budaya, pelestarian kesenian tradisional, hingga kegiatan bersama yang memberi manfaat langsung kepada masyarakat dan generasi muda.

Bagi INSA, seni dan budaya tidak cukup hanya dirayakan selama beberapa hari. Kebudayaan harus dijaga, dicatat, diwariskan, dan diberikan ruang untuk terus berkembang di tengah perubahan zaman.

Tantri menegaskan bahwa Perkemahan Dialog Seni dan Kebudayaan Empat Negara harus memiliki jejak yang lebih panjang daripada usia panggungnya.

“Ketika acara selesai, hubungan yang dibangun tidak boleh ikut selesai. Harus ada pertemuan lanjutan, program bersama, pertukaran seniman, dokumentasi, serta kerja nyata yang membuat kebudayaan terus hidup,” ujarnya.

Dumai Harus Berani Membuka Diri

Perkemahan Dialog Seni dan Kebudayaan Empat Negara menjadi langkah berani untuk membawa Dumai keluar dari bayang-bayang kota persinggahan.

Selama ini, banyak orang datang ke Dumai untuk bekerja, berlayar, atau melanjutkan perjalanan. INSA ingin mendorong perubahan cara pandang tersebut. Dumai harus menjadi kota yang membuat orang ingin tinggal lebih lama, mengenal kebudayaannya, menikmati kawasan pesisirnya, dan kembali membawa cerita tentang keramahan serta kekayaan daerah ini.

Pantai Tantrayana dapat menjadi titik awal.

Dari kawasan pesisir Teluk Makmur, para seniman dan budayawan akan dipertemukan. Gagasan akan dipertukarkan. Karya akan ditampilkan. Persahabatan akan dibangun. Kebudayaan Melayu akan diperkenalkan dengan cara yang lebih hidup, terbuka, dan membanggakan.

“Kami percaya, dari tempat yang mungkin hari ini masih dianggap kecil, dapat lahir sebuah pertemuan besar. Pantai Tantrayana bisa menjadi saksi bahwa Dumai berani membuka pintunya kepada dunia,” kata Tantri Subekti.

Kegiatan ini memang bermula dari sebuah gagasan. Namun, setiap perubahan besar selalu dimulai dari keberanian untuk mengetuk pintu yang sebelumnya belum pernah dibuka.

Tim INSA telah mulai mengetuk pintu itu.

Kini, dukungan berbagai pihak dibutuhkan agar dari Pantai Tantrayana, Dumai benar-benar mampu melangkah menuju panggung budaya dunia.

Susunan Tim International Strait Art

Tim INSA dipimpin oleh Tantri Subekti sebagai ketua, didampingi Uccu Mad atau Muhammad Irfan sebagai wakil ketua. Posisi sekretaris dipercayakan kepada Wak Jack atau Much. Khahar Jamildan  bendahara INSA, Sarina.

Bidang media dan publikasi ditangani oleh Elly, sedangkan bidang pendanaan dipercayakan kepada Noni atau Alfa Frska Septiani. Untuk membangun komunikasi dan jaringan lintas negara, bidang hubungan internasional dijalankan oleh Chip Malaya.

Tim tersebut akan bekerja bersama dalam mempersiapkan konsep kegiatan, membangun komunikasi dengan pemerintah dan lembaga kebudayaan, menjalin hubungan dengan negara peserta, mengembangkan publikasi, serta menghimpun dukungan agar kegiatan dapat terlaksana secara profesional dan berkelanjutan.

Sebab kota yang besar bukan hanya kota yang ramai oleh perdagangan, tetapi kota yang mampu menjaga budayanya dan membagikannya kepada dunia.