Ependi Bahrum: Purnama Bukan Ring 1, Tapi Kami yang Tiap Hari Menanggung Dampaknya

 DUMAI — Ketua Forum RT Purnama, Ependi Bahrum, menegaskan bahwa masyarakat Purnama sudah terlalu lama menanggung dampak aktivitas kendaraan perusahaan yang melintasi wilayah mereka.

Menurut Ependi, aksi masyarakat merupakan suara murni dari warga, bukan kepentingan pribadi RT maupun LPMK. Aspirasi itu lahir dari penderitaan panjang masyarakat yang merasa tidak dihargai sebagai daerah terdampak.



“Kami bukan Ring 1 perusahaan, tapi kami daerah terdampak. Kami yang merasakan debu, jalan rusak, macet, usaha terganggu, bahkan keselamatan warga terancam,” tegasnya.

Ependi menyebut kendaraan perusahaan setiap hari melintasi Jalan Purnama yang berada di kawasan permukiman, sekolah, rumah ibadah, dan pusat aktivitas masyarakat. Kondisi itu membuat warga sulit beraktivitas, terutama saat terjadi kemacetan atau kendaraan rusak di jalan.

Ia juga menegaskan bahwa tuntutan utama masyarakat adalah realisasi CSR untuk warga Purnama serta penyelesaian persoalan jalan, khususnya Jalan Parit Kitang sebagai solusi mengurai kemacetan.

CSR yang diminta, kata Ependi, bukan semata bantuan dana. Masyarakat berharap ada program nyata seperti penyiraman jalan untuk mengurangi debu, bantuan rumah ibadah, kegiatan sosial, kegiatan keagamaan, dan dukungan kegiatan masyarakat tingkat RT.

Ependi berharap Pemerintah Kota Dumai, DPRD, Dinas Perhubungan, dan pihak perusahaan turun langsung ke lapangan mendengar suara masyarakat.

“Yang kami minta sederhana, masyarakat Purnama dihargai dan dianggap ada. Jangan hanya dapat debunya saja,” ujarnya.

edo Y