DUMAI — Wali Kota Dumai bersama Kepala Dinas Pariwisata Kota Dumai menyatakan dukungan penuh terhadap penyelenggaraan Perkemahan Dialog Seni yang akan berlangsung pada 11–13 September 2026 di Pantai Tantrayana, Kelurahan Teluk Makmur, Kota Dumai.
Kegiatan ini membawa konsep yang
berbeda dari pertemuan seni pada umumnya. Perkemahan akan dipadukan dengan
dialog kebudayaan, workshop teater, pertunjukan seni, serta pertukaran gagasan
antara seniman, budayawan, akademisi, dan praktisi kreatif dari berbagai
daerah.
Sejumlah sutradara film dan
budayawan dari Jakarta direncanakan hadir sebagai pengisi workshop teater.
Kegiatan ini juga akan diikuti para pelaku seni dan budayawan dari berbagai
daerah, sehingga Pantai Tantrayana akan menjadi ruang perjumpaan bagi beragam
pengalaman, pemikiran, dan kekayaan budaya.
Sejumlah tokoh dan akademisi juga
direncanakan turut hadir, di antaranya Prof. Alaiddin Koto, Prof. Husnu
Abadi, Prof. Galang Asmara, serta para pakar kebudayaan lainnya.
Dukungan Wali Kota Dumai dan Kepala
Dinas Pariwisata menjadi sinyal kuat bahwa seni dan budaya harus ditempatkan
sebagai bagian penting dalam pembangunan dan promosi daerah. Kegiatan ini tidak
hanya berbicara tentang pertunjukan, tetapi juga menjadi ruang untuk menyusun
gagasan besar mengenai masa depan kebudayaan lokal.
Konsep perkemahan yang disatukan
dengan dialog budaya lintas daerah ini disebut sebagai salah satu kegiatan
pertama di Riau, bahkan kemungkinan menjadi konsep pertama yang diselenggarakan
secara khusus di Indonesia.
Para peserta tidak hanya datang
untuk tampil di atas panggung. Mereka akan tinggal bersama dalam suasana
perkemahan, berdiskusi, mengikuti workshop, bertukar pengalaman, serta
membangun jaringan persahabatan dan persaudaraan antarpelaku seni.
Mengangkat
Budaya Lokal
Perkemahan Dialog Seni bertujuan
mengangkat potensi budaya lokal, khususnya kebudayaan Melayu, agar semakin
dikenal oleh masyarakat nasional dan internasional..jpeg)
Kebudayaan Melayu tidak cukup hanya
ditampilkan pada acara-acara seremonial. Nilai, sejarah, kesenian, bahasa, dan
tradisinya harus terus dibicarakan, dipelajari, dikembangkan, serta
diperkenalkan kepada generasi muda dan masyarakat dunia.
Melalui pertemuan ini, para seniman
dan budayawan dari berbagai latar belakang dapat saling mengenal serta memahami
kekayaan budaya masing-masing. Perbedaan budaya tidak dijadikan jarak, tetapi
menjadi kekuatan untuk mempererat persahabatan dan persaudaraan antarwilayah,
bahkan antarnegara.
Kegiatan ini juga diharapkan dapat
melahirkan gagasan, kolaborasi, dan karya baru yang berpijak pada kekayaan
budaya daerah.
Dumai
Memiliki Posisi yang Strategis
Dumai memiliki posisi geografis yang
sangat strategis. Kota ini berada di kawasan pesisir Selat Malaka dan
berdekatan dengan jalur pelayaran internasional serta sejumlah negara tetangga.
Posisi tersebut membuka peluang
besar bagi Dumai untuk berkembang sebagai kawasan pertukaran budaya,
pendidikan, bisnis, pariwisata, dan investasi.
Namun, posisi geografis yang
strategis tidak akan memberikan dampak besar apabila tidak dibaca dan dimanfaatkan
sebagai peluang. Dumai harus mulai berani membangun ruang-ruang pertemuan yang
dapat menarik orang datang, berdialog, berkarya, dan membangun hubungan dengan
kota ini.
Batam telah berkembang menjadi salah
satu pusat lalu lintas manusia, bisnis, dan investasi antarnegara karena mampu
membaca peluang pasar dan kekuatan wilayahnya. Dumai juga memiliki peluang yang
besar untuk tumbuh, dengan kekuatan utama berupa pelabuhan, kawasan industri,
masyarakat yang beragam, serta identitas budaya Melayu yang kuat.
Perkemahan Dialog Seni menjadi salah
satu langkah strategis untuk membuka Dumai ke panggung budaya yang lebih luas.
Dumai tidak hanya diperkenalkan sebagai kota pelabuhan dan industri, tetapi
juga sebagai kota budaya, kota kreatif, dan titik pertemuan masyarakat dari
berbagai daerah dan negara.
Pantai
Tantrayana sebagai Ruang Pertemuan Budaya
Pemilihan Pantai Tantrayana sebagai
lokasi kegiatan memiliki makna tersendiri. Kawasan pesisir tersebut tidak hanya
menjadi tempat berlangsungnya perkemahan, tetapi juga menjadi simbol
keterbukaan Dumai terhadap pertukaran gagasan dan kebudayaan.
Dari pesisir Teluk Makmur, para
seniman dan budayawan akan membawa pesan bahwa budaya dapat menjadi jembatan
yang menghubungkan daerah, generasi, dan bangsa.
Apabila dilaksanakan secara
konsisten dan dikelola dengan baik, Perkemahan Dialog Seni berpotensi
berkembang menjadi agenda kebudayaan tahunan berskala nasional dan
internasional.
Kegiatan ini juga dapat memberikan
dampak bagi sektor pariwisata, UMKM, ekonomi kreatif, pendidikan, perhotelan,
transportasi, serta promosi investasi di Kota Dumai.
Dumai tidak boleh hanya menjadi kota
tempat orang singgah, kemudian pergi. Dumai harus menjadi kota tempat orang
bertemu, bertukar gagasan, membangun kerja sama, dan melahirkan karya.
Seni menjadi bahasanya, budaya
menjadi kekuatannya, dan Dumai menjadi pintu pertemuan menuju dunia.

