Dua Periode Pimpin PTMSI, Legislator Dumai Ini Membawa Gagasan Konsolidasi Cabor, Penguatan Pembinaan Atlet dan Kolaborasi Menuju Prestasi
DUMAI — Bursa kepemimpinan Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Kota Dumai semakin menarik. Edison, SH, anggota DPRD Kota Dumai, menyatakan langkahnya maju sebagai calon Ketua Umum KONI Dumai.
Kehadiran Edison dalam kontestasi ini membawa latar belakang yang cukup lengkap. Selain memiliki pengalaman di lembaga legislatif, Edison juga bukan orang baru dalam dunia olahraga.
Ia telah dua periode memimpin Persatuan Tenis Meja Seluruh Indonesia (PTMSI) Kota Dumai.
Pengalaman tersebut membuat Edison mengetahui dari dekat bagaimana sebuah cabang olahraga dibangun, bagaimana atlet dipersiapkan, bagaimana pelatih bekerja, bagaimana kompetisi menjadi bagian penting pembinaan, hingga persoalan fasilitas dan dukungan yang dihadapi pengurus cabor.
Karena itu, langkah Edison menuju kursi Ketua KONI tidak semata berangkat dari pengalaman politik atau jaringan kelembagaan.
Ia juga membawa pengalaman langsung mengelola sebuah cabang olahraga.
Dan di KONI, pengalaman itu akan menghadapi ujian yang jauh lebih besar.
Sebab ukuran keberhasilan kepemimpinan olahraga pada akhirnya bukan banyaknya agenda atau seremoni.
Ukuran akhirnya adalah prestasi.
Bagaimana cabor tumbuh.
Bagaimana atlet dibina.
Bagaimana pelatih diperkuat.
Bagaimana kompetisi berjalan.
Dan bagaimana KONI mampu menjadi rumah besar yang dipercaya seluruh insan olahraga Kota Dumai.
DUA PERIODE PIMPIN PTMSI, PAHAM FONDASI PEMBINAAN ATLET
Dua periode memimpin PTMSI Kota Dumai memberikan Edison pengalaman yang bersentuhan langsung dengan pembinaan olahraga.
Mengelola cabang olahraga tidak hanya berbicara mengenai struktur kepengurusan.
Di dalamnya terdapat proses panjang membentuk atlet.
Mulai dari menemukan bibit potensial, memastikan latihan berjalan, meningkatkan kualitas pelatih, menyediakan ruang kompetisi hingga mempersiapkan atlet menghadapi pertandingan.
Pengalaman tersebut memberikan pemahaman bahwa prestasi tidak dapat dipersiapkan secara mendadak menjelang kejuaraan.
Prestasi harus dibangun dari fondasi.
Atlet harus ditemukan sejak dini.
Pembinaan harus berjalan berjenjang.
Kompetisi harus hidup.
Pelatih harus terus berkembang.
Dan cabor harus mempunyai arah pembinaan yang jelas.
Sebagai orang yang pernah memimpin PTMSI Dumai selama dua periode, Edison mengetahui bahwa persoalan olahraga sering kali justru berada pada proses yang tidak terlihat publik.
Di balik sebuah medali terdapat latihan panjang, biaya, disiplin, pelatih, fasilitas dan konsistensi organisasi.
Pengalaman itulah yang menjadi salah satu modal Edison ketika masuk dalam bursa Ketua KONI Dumai.
Ia tidak hanya melihat persoalan cabor dari luar. Ia pernah berada langsung di dalamnya.
PENGALAMAN LEGISLATIF JADI MODAL MEMBANGUN KOLABORASI
Di luar pengalaman olahraga, posisi Edison sebagai anggota DPRD Kota Dumai memberikan perspektif berbeda.
Pengalaman di lembaga legislatif membuatnya memahami mekanisme pemerintahan, penganggaran, komunikasi antarlembaga serta dinamika pembangunan daerah.
Jika dua pengalaman tersebut dapat dipadukan, Edison mempunyai modal untuk menjembatani kebutuhan olahraga dengan berbagai pemangku kepentingan.
Namun pengalaman dan jaringan saja tidak cukup.
Semua itu harus mampu diterjemahkan menjadi manfaat konkret bagi atlet dan cabang olahraga.
Bukan sekadar jaringan, tetapi membuka jalan.
Bukan sekadar komunikasi, tetapi membangun kolaborasi.
Bukan sekadar program, tetapi menghasilkan prestasi.
KONI ke depan membutuhkan kemampuan membangun sinergi antara cabor, pemerintah daerah, DPRD, dunia usaha, pelatih, atlet dan masyarakat olahraga.
Karena olahraga modern tidak mungkin berkembang jika berjalan sendiri-sendiri.
CABOR HARUS MENJADI JANTUNG KONI
KONI tidak akan pernah kuat apabila cabang olahraganya lemah.
Karena itu, kepemimpinan KONI berikutnya harus menempatkan cabor sebagai jantung organisasi.
Setiap cabang olahraga mempunyai kebutuhan yang berbeda.
Ada yang membutuhkan sarana latihan.
Ada yang membutuhkan peningkatan kualitas pelatih.
Ada yang membutuhkan kompetisi rutin.
Ada pula yang membutuhkan dukungan agar atlet potensial dapat mengikuti kejuaraan di tingkat provinsi maupun nasional.
Kebutuhan tersebut tidak boleh baru dibicarakan menjelang Porprov atau ketika sebuah kejuaraan besar sudah berada di depan mata.
Pembinaan harus berjalan terencana, terukur, konsisten dan berkelanjutan.
KONI harus mengetahui peta kekuatan masing-masing cabor.
Cabang mana yang sudah memiliki atlet unggulan.
Cabang mana yang mempunyai potensi besar.
Cabang mana yang membutuhkan pembenahan.
Dan cabang mana yang harus mendapatkan percepatan pembinaan.
KONI harus hadir ketika atlet sedang berlatih, bukan hanya ketika atlet sudah berdiri di podium.
KONI harus mendengar ketika cabor menghadapi persoalan, bukan baru datang ketika medali telah diperoleh.
PEMBINAAN ATLET TIDAK BOLEH INSTAN
Prestasi olahraga tidak lahir dalam satu malam.
Satu medali yang terlihat sederhana di podium merupakan hasil dari proses panjang yang berlangsung berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun.
Karena itu, Dumai membutuhkan sistem pembinaan atlet yang memiliki jenjang jelas.
Mulai dari pencarian bibit usia dini, pembinaan atlet junior, pemetaan atlet potensial hingga atlet prestasi yang dipersiapkan untuk menghadapi event besar.
Data atlet juga harus menjadi dasar kebijakan.
KONI perlu mengetahui siapa atlet potensial Dumai, cabang olahraganya, rekam prestasinya, kebutuhan latihannya dan target kompetisinya.
Dengan sistem seperti itu, pembinaan tidak lagi bergantung kepada momentum.
Dumai tidak boleh hanya mencari atlet ketika kejuaraan sudah dekat. Dumai harus menciptakan atlet jauh sebelum pertandingan dimulai.
DUMAI PUNYA KEKUATAN BESAR
Dumai memiliki potensi yang tidak dimiliki banyak daerah.
Sebagai kota industri, terdapat banyak perusahaan besar yang tumbuh dan menjalankan aktivitas usaha di daerah ini.
Potensi tersebut dapat dibangun menjadi kekuatan kolaborasi untuk dunia olahraga.
Bukan berarti seluruh pembiayaan olahraga harus dibebankan kepada dunia usaha.
Namun KONI harus mampu membuka ruang kemitraan yang profesional, transparan dan terukur.
Kolaborasi dapat diarahkan untuk mendukung pembinaan atlet usia muda, penyelenggaraan kompetisi, peningkatan fasilitas latihan hingga pembinaan cabang olahraga tertentu.
Kemitraan juga harus dibangun berdasarkan kebutuhan nyata dan target yang jelas.
Jika pemerintah, KONI, cabor dan dunia usaha mampu berjalan dalam satu arah, peluang Dumai untuk memperkuat prestasi olahraga akan semakin terbuka.
Potensinya tersedia. Tantangannya adalah bagaimana menyatukannya menjadi kekuatan.
KURSI KETUA KONI ADALAH KURSI TANGGUNG JAWAB
Kontestasi Ketua KONI Dumai seharusnya tidak berhenti pada persoalan siapa yang maju dan siapa yang memperoleh dukungan terbanyak.
Lebih penting dari itu adalah gagasan apa yang ditawarkan kepada dunia olahraga Dumai.
Siapa pun yang ingin memimpin KONI harus mampu menjawab sejumlah persoalan mendasar.
Bagaimana meningkatkan prestasi Dumai?
Bagaimana melahirkan atlet-atlet baru?
Bagaimana menjaga atlet potensial agar tetap membela Dumai?
Bagaimana meningkatkan kualitas pelatih?
Bagaimana menghidupkan kompetisi?
Bagaimana memperkuat organisasi cabor?
Dan bagaimana memastikan anggaran olahraga benar-benar berdampak terhadap pembinaan dan prestasi?
Karena itu, kursi Ketua KONI bukan kursi kehormatan.
Ini adalah kursi tanggung jawab.
KONI DUMAI BUTUH LOMPATAN, BUKAN SEKADAR PROGRAM
Tantangan olahraga Dumai ke depan tidak cukup dijawab dengan rutinitas organisasi.
KONI membutuhkan lompatan.
Lompatan dalam sistem pembinaan.
Lompatan dalam kualitas pelatih.
Lompatan dalam kompetisi.
Lompatan dalam pengelolaan organisasi.
Lompatan dalam kolaborasi.
Dan yang paling penting, lompatan dalam prestasi atlet.
Program kerja tetap penting, tetapi setiap program harus memiliki ukuran keberhasilan yang jelas.
Berapa atlet baru yang berhasil dibina?
Berapa pelatih yang meningkat kompetensinya?
Berapa kompetisi yang berjalan?
Berapa atlet Dumai yang menembus tingkat provinsi dan nasional?
Dan berapa peningkatan prestasi yang dihasilkan?
KONI tidak boleh terjebak menjadi organisasi yang sibuk menjalankan agenda, tetapi sulit mengukur hasilnya.
Program harus menjadi jalan menuju prestasi, bukan sekadar daftar kegiatan tahunan.
Inilah paradigma yang dibutuhkan jika KONI Dumai ingin bergerak lebih jauh.
Organisasinya harus profesional.
Cabor harus diperkuat.
Atlet harus menjadi pusat pembinaan.
Pelatih harus mendapatkan perhatian.
Dan setiap penggunaan sumber daya harus mempunyai hubungan yang jelas dengan peningkatan prestasi.
DARI DPRD DAN PTMSI MENUJU RUMAH BESAR OLAHRAGA
Bagi Edison, pencalonan Ketua KONI membuka ruang pengabdian yang berbeda.
Di DPRD, ia bekerja melalui fungsi dan kewenangan legislatif.
Di PTMSI, selama dua periode ia berhadapan langsung dengan dinamika sebuah cabang olahraga.
Jika kemudian dipercaya memimpin KONI Kota Dumai, tanggung jawab tersebut akan berkembang jauh lebih besar.
Bukan lagi mengurus satu cabang olahraga.
Tetapi merangkul seluruh cabang olahraga di bawah KONI Dumai dengan karakter, persoalan dan potensi masing-masing.
Pengalaman legislatif menjadi modal kelembagaan.
Pengalaman memimpin PTMSI menjadi modal pembinaan olahraga.
Namun kedua pengalaman tersebut hanya akan berarti apabila mampu diterjemahkan menjadi perubahan yang dapat dirasakan atlet dan cabor.
Sebab olahraga mempunyai ukuran yang sangat jelas.
Prestasi tidak lahir dari pidato.
Prestasi lahir dari pembinaan panjang, disiplin, kompetisi, fasilitas, pelatih berkualitas dan keberpihakan yang nyata terhadap atlet.
Di situlah Edison akan diuji.
Masuknya Edison, SH dalam bursa Ketua KONI Dumai membuat kontestasi ini semakin menarik.
Ia datang membawa pengalaman sebagai anggota DPRD sekaligus rekam jejak dua periode memimpin PTMSI Kota Dumai.
Dua pengalaman dari ruang berbeda yang kini bertemu pada satu tantangan besar.
Mengubah jaringan menjadi kolaborasi, mengubah program menjadi pembinaan, dan mengubah potensi atlet Dumai menjadi prestasi.
Pada akhirnya, dunia olahraga Dumai tidak hanya membutuhkan seorang ketua.

.png)
.png)
.png)