RISKI KURNIAWAN PASANG BADAN: “SAYA YAKIN 1000% VIENCENT MORGASINI LAYAK PIMPIN KONI DUMAI”


Mantan Wakil Ketua KONI Dumai Dua Periode Pilih Mundur dari Bursa, Beri Dukungan Penuh kepada Viencent dan Serukan Cabor Tolak Politik Transaksional

DUMAI — Bursa kepemimpinan Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Kota Dumai semakin menghangat. Dukungan terhadap Viencent Morgasini untuk memimpin KONI Dumai terus bermunculan. Kali ini, dukungan terbuka datang dari Riski Kurniawan, ST., M.IP, mantan Wakil Ketua KONI Kota Dumai dua periode sekaligus mantan Ketua KNPI Kota Dumai.



Riski bahkan menyatakan dukungannya tanpa ragu. Menurutnya, Viencent memiliki kapasitas, karakter, kemampuan komunikasi, pengalaman organisasi serta jejaring yang dibutuhkan untuk membawa olahraga Dumai bergerak lebih maju.

“Saya yakin 1000 persen beliau bisa dan pasti berhasil. Sosok Viencent sangat layak mengembangkan dunia olahraga Kota Dumai,” tegas Riski kepada media, Jumat (14/8/2026).

Bagi Riski, pemimpin KONI tidak cukup hanya memahami struktur organisasi atau berbicara mengenai program. Ketua KONI juga harus mampu membangun komunikasi dengan cabang olahraga, atlet, pemerintah, dunia usaha, komunitas serta berbagai elemen yang memiliki kepedulian terhadap kemajuan olahraga.

Ia melihat kemampuan tersebut ada pada sosok Viencent.

“Karakter beliau sangat bersahaja. Komunikasi dan literasi serta bahasanya baik. Ini yang bisa membuat dan mengembalikan marwah dunia olahraga Kota Dumai,” ujarnya.

BUKAN FIGUR YANG MUNCUL TIBA-TIBA

Jejak Viencent di dunia organisasi, kepemudaan dan olahraga bukan baru muncul menjelang bursa KONI. Ia kini dipercaya memimpin DPC IKA UIR Kota Dumai periode 2025–2030 dan juga menjabat Ketua Harian Karang Taruna Kota Dumai. (Riau Sky)

Di kalangan anak muda dan olahraga, Viencent juga memiliki jejak dalam pengembangan E-Sport. Pada 2023, ia menjadi penggerak Turnamen MLBB Season I Kota Dumai yang melibatkan 384 peserta dari 64 tim, dengan tujuan menjaring dan melahirkan bibit atlet E-Sport Dumai agar mampu bersaing hingga tingkat provinsi dan nasional. (PAB Indonesia)

Melalui Tjitra Moergha, Viencent juga tidak berhenti pada olahraga digital. Komunitas tersebut bergerak dalam kegiatan sosial, olahraga dan kreativitas anak muda. Ia ikut mendorong pembinaan sepak bola usia dini, termasuk kolaborasi penyelenggaraan kompetisi dan Liga Sepak Bola Tjitra Moergha U-13 di Dumai. (Suara Kritik)

Bagi Riski, perjalanan tersebut memperlihatkan bahwa Viencent mempunyai modal untuk memahami karakter generasi baru olahraga: mulai dari organisasi, pembinaan atlet, olahraga konvensional hingga olahraga digital.



PUNYA JARINGAN SOSIAL DAN KEPEMUDAAN

Riski menilai kekuatan Viencent tidak hanya terletak pada olahraga.

Aktivitasnya di organisasi alumni, Karang Taruna, komunitas anak muda hingga kegiatan sosial membuat Viencent dinilai memiliki jaringan lintas kelompok yang dapat menjadi modal membangun kolaborasi KONI ke depan.

Sebagai Founder Tjitra Moergha, Viencent juga tercatat menggerakkan kegiatan sosial dan pendidikan, termasuk dukungan kepada anak-anak panti asuhan serta aktivitas pemberdayaan generasi muda. (Penjurupos)

“Tidak hanya di olahraga. Di dunia sosial kemasyarakatan dan kepemudaan beliau juga besar. Di organisasi Pemuda Pancasila beliau ada. Di PSMTI Kota Dumai beliau juga ada. Keberadaannya memberi warna dan semangat agar organisasi berkembang dan maju, apalagi dengan akses yang beliau punya,” tambah Riski.

RISKI: SAYA MUNDUR, SAYA DUKUNG VIENCENT

Pernyataan Riski menjadi semakin menarik karena ia mengakui sebelumnya juga memiliki keinginan untuk maju dalam bursa Ketua KONI Dumai.

Namun niat tersebut berubah setelah mengetahui Viencent akan masuk dalam kontestasi kepemimpinan olahraga Dumai.

Alih-alih tetap bersaing, Riski memilih mundur dan memberikan dukungan penuh.

“Awalnya saya juga ingin maju. Tapi begitu dengar adinda Viencent ingin maju, saya mundur. Saya doakan beliau bisa mengambil alih nakhoda dunia olahraga Dumai,” kata Riski.

Sikap tersebut, menurut Riski, bukan persoalan siapa yang mendapatkan jabatan. Baginya, kepentingan yang jauh lebih besar adalah menemukan figur yang mampu menyatukan cabang olahraga dan membangun ekosistem pembinaan atlet secara lebih kuat.

Ia berharap KONI Dumai ke depan tidak terjebak dalam rutinitas organisasi, tetapi benar-benar menjadi rumah besar bagi seluruh cabang olahraga dan atlet.

CABOR HARUS BERPIKIR UNTUK MASA DEPAN

Riski kemudian menyampaikan pesan khusus kepada seluruh cabang olahraga yang memiliki hak dalam proses pemilihan Ketua KONI Dumai.

Menurutnya, pilihan Cabor akan menentukan arah olahraga Dumai beberapa tahun ke depan.

Karena itu, ia meminta setiap Cabor melihat rekam jejak, kapasitas, integritas, jaringan dan kemampuan calon membangun organisasi, bukan sekadar berdasarkan kepentingan sesaat.

“Saya berharap para Cabor bisa memberikan dukungan dan berpikir terbaik untuk dunia olahraga Dumai,” katanya.



“TOLAK POLITIK TRANSAKSIONAL”

Di bagian akhir pernyataannya, Riski menyampaikan pesan yang cukup keras.

Ia tidak ingin pemilihan Ketua KONI Dumai berubah menjadi arena transaksi kepentingan yang justru berpotensi merusak semangat pembinaan olahraga.

“Semoga di Dumai pemilihannya tidak transaksional seperti di daerah lain. Cabor harus menentukan pilihan untuk kepentingan masa depan olahraga Dumai,” tegasnya.

Seruan itu menjadi pesan penting menjelang kontestasi kepemimpinan KONI Dumai. Sebab jabatan Ketua KONI bukan sekadar kursi organisasi. Di baliknya terdapat tanggung jawab terhadap pembinaan atlet, penguatan Cabor, peningkatan prestasi, regenerasi atlet serta kehormatan Kota Dumai di berbagai arena kompetisi.

Dengan dukungan yang mulai mengalir dan rekam jejak yang telah dibangun di organisasi kepemudaan, sosial serta pembinaan olahraga, Viencent Morgasini kini menjadi salah satu nama yang semakin diperhitungkan dalam bursa kepemimpinan KONI Kota Dumai.

Dan bagi Riski Kurniawan, pilihannya sudah jelas:

“Saya yakin 1000 persen Viencent layak. Sekarang saatnya olahraga Dumai dipimpin oleh orang yang punya energi, jaringan, komunikasi dan keberanian untuk membawa perubahan.”

(Red)