Sempat Ragu Terima Amanah, Kini Setiap Tumpukan Sampah Dianggap Sebagai Pekerjaan Rumah yang Harus Diselesaikan
Namun bagi Sumiati, Ketua LPS Rimba Sekampung, amanah itu bukan soal berapa besar penghasilan yang diterima.
Ia menegaskan, ketika menerima tanggung jawab sebagai Ketua LPS, hal pertama yang dipikirkannya bukanlah gaji.
“Yang saya pikir pertama bukan gaji. Saya kalau bekerja tidak berpikir nominalnya dulu, tetapi bagaimana saya sebagai warga masyarakat bisa bermanfaat untuk orang banyak,” ujar Sumiati.
Pernyataan tersebut menggambarkan bagaimana dirinya memandang jabatan Ketua LPS.
Bukan sebagai posisi untuk mencari keuntungan, tetapi sebagai ruang pengabdian di lingkungan tempat ia sendiri tinggal.
Sumiati mengaku sejak awal tidak pernah merencanakan menjadi Ketua LPS.
Saat menghadiri forum musyawarah pergantian kepengurusan, peserta justru memberikan kepercayaan kepadanya untuk memimpin.
Ia sempat ragu.
Bahkan Sumiati diberikan waktu sekitar 30 menit untuk mempertimbangkan keputusan tersebut.
Akan tetapi, satu pemikiran akhirnya membuatnya menerima amanah.
Ia adalah warga Rimba Sekampung.
Karena itu, menurutnya, akan terasa tidak adil jika dirinya menuntut lingkungan bersih tetapi tidak bersedia ikut mengambil bagian ketika diberi kesempatan untuk membantu.
“Saya berpikir, saya juga warga Rimba Sekampung. Kalau saya tidak mau, rasanya tidak adil bagi saya sebagai warga kalau tidak peduli terhadap sampah,” ungkapnya.
Sejak memimpin LPS, cara pandang Sumiati terhadap sampah pun berubah.
Jika sebelumnya melihat sampah di jalan mungkin hanya dianggap pemandangan biasa, kini setiap tumpukan sampah langsung menjadi persoalan yang harus dipikirkan penyelesaiannya.
“Semenjak bergabung di LPS, kalau melihat sampah itu menjadi PR,” katanya.
Bahkan pada masa awal kepengurusannya, Sumiati mengaku sempat berkeliling Rimba Sekampung menggunakan sepeda motor untuk melihat langsung kondisi lingkungan.
Dari situ ia menyadari bahwa persoalan sampah bukan pekerjaan kecil.
Wilayah yang luas, drainase, bantaran sungai, sampah liar hingga keterbatasan petugas membuat tantangan pengelolaan sampah tidak bisa diselesaikan hanya dari balik meja.
Menurutnya, menjadi Ketua LPS berarti harus siap melihat persoalan nyata di lapangan.
Ia juga menilai kebersihan tidak boleh hanya dibebankan kepada petugas.
Masyarakat harus ikut terlibat.
Karena sekuat apa pun LPS bekerja, persoalan sampah akan terus muncul apabila kebiasaan masyarakat tidak berubah.
Sumiati pun mengingatkan bahwa kepedulian terhadap lingkungan seharusnya dimulai dari rumah sendiri.
Orang tua harus memberikan contoh kepada anak, sementara setiap keluarga harus membangun kebiasaan tidak membuang sampah sembarangan.
Baginya, perubahan besar justru bermula dari tindakan kecil.
Pesan Sumiati sederhana tetapi kuat: jangan hanya bertanya siapa yang harus membersihkan sampah. Mulailah bertanya apa yang sudah kita lakukan agar sampah itu tidak menjadi masalah.
.png)
.png)
