Afrianto Kurniawan: Perjuangan Pembentukan Provinsi Baru Harus Dijaga dari Ego Kelompok, Konflik Internal dan Kepentingan Pribadi
“Satu Tujuan, Satu Barisan, Riau Pesisir untuk Kepentingan Rakyat.”
PEKANBARU — Perjuangan pembentukan Provinsi Riau Bagian Pesisir kini memasuki fase yang semakin serius. Aspirasi yang selama ini tumbuh di tengah masyarakat tidak lagi cukup hanya disuarakan dengan semangat. Ia membutuhkan konsolidasi, kajian yang kuat, komunikasi politik yang matang, transparansi, serta satu hal yang paling menentukan: persatuan
Di tengah menguatnya harapan lahirnya provinsi baru di kawasan pesisir Riau, Tokoh Muda Riau Bagian Pesisir sekaligus pemerhati sosial-politik, Afrianto Kurniawan, SH, mengingatkan seluruh elemen agar tidak menjadikan perjuangan tersebut sebagai arena perebutan pengaruh, panggung pribadi maupun kompetisi menentukan siapa yang paling berjasa.
Menurut Afrianto, ancaman terbesar sebuah perjuangan besar tidak selalu datang dari luar. Justru gerakan dapat melemah ketika orang-orang di dalamnya mulai saling mencurigai, membangun kelompok sendiri, memperebutkan posisi dan kehilangan fokus terhadap tujuan utama.
“Kalau masyarakat sudah mulai saling curiga, komunikasi terputus, kemudian masing-masing merasa paling benar dan paling berjasa, maka yang terjadi adalah gerakan akan pecah dari dalam. Ini yang harus kita cegah,” kata Afrianto.
Baginya, pembentukan Provinsi Riau Bagian Pesisir harus ditempatkan sebagai agenda rakyat, bukan proyek segelintir orang.
Jangan Sampai Kepentingan Rakyat Kalah oleh Ego
Afrianto menilai ego kelompok merupakan salah satu ancaman paling serius dalam sebuah gerakan sosial dan politik.
Setiap organisasi, tokoh dan jaringan tentu memiliki peran, pandangan serta strategi masing-masing. Namun seluruh perbedaan tersebut harus berhenti ketika berhadapan dengan kepentingan besar masyarakat.
Perbedaan strategi boleh terjadi. Perpecahan tidak boleh.
Ia mengingatkan bahwa perjuangan daerah otonom baru tidak semestinya berubah menjadi arena perebutan siapa yang paling depan, siapa yang paling senior atau siapa yang nantinya paling berhak disebut sebagai pencetus.
“Jangan berebut sertifikat sebagai orang paling berjasa. Masyarakat tidak membutuhkan itu. Masyarakat membutuhkan hasil,” tegasnya.
Pernyataan tersebut menjadi penting karena perjuangan pemekaran bukan pekerjaan sehari atau dua hari. Ia membutuhkan proses panjang yang melibatkan pemerintah, legislatif, akademisi, tokoh masyarakat, organisasi, dunia usaha dan masyarakat luas.
Karena itu, menurut Afrianto, tidak satu pun pihak layak mengklaim perjuangan tersebut sebagai miliknya sendiri.
Jangan Jadikan Pemekaran sebagai Panggung Pribadi
Afrianto mengingatkan bahwa perjuangan rakyat akan kehilangan martabat apabila kemudian berubah menjadi kendaraan membangun popularitas individu.
Menurutnya, masyarakat harus mampu membedakan antara tokoh yang benar-benar bekerja memperkuat substansi pemekaran dengan mereka yang hanya berlomba berada di depan kamera dan ingin terlihat paling dominan.
“Jangan sampai perjuangan rakyat justru menjadi kendaraan bagi kepentingan individu. Jangan sampai ada orang yang lebih sibuk membangun posisi daripada membangun argumentasi untuk pemekaran,” katanya.
Ia menilai masyarakat Riau Pesisir jauh lebih membutuhkan kerja nyata: penyempurnaan kajian, dukungan politik, persyaratan administratif, argumentasi ekonomi, desain pembangunan wilayah dan komunikasi dengan pemerintah pusat.
Bukan sekadar pertarungan narasi tentang siapa yang paling berjasa.
Jika energi perjuangan justru habis untuk konflik antarfigur, maka yang tertinggal bukan hanya agenda pemekaran, tetapi juga kepercayaan masyarakat.
Provinsi Baru Harus Dibangun dengan Argumentasi, Bukan Emosi
Pembentukan Provinsi Riau Bagian Pesisir, menurut Afrianto, tidak boleh hanya bertumpu pada semangat kedaerahan.
Perjuangan harus mampu menjawab pertanyaan yang jauh lebih substansial: mengapa provinsi baru dibutuhkan, apa manfaatnya bagi masyarakat, bagaimana kekuatan ekonominya, bagaimana pelayanan publik akan diperbaiki dan bagaimana kesejahteraan masyarakat pesisir dapat meningkat.
Wilayah pesisir Riau memiliki posisi strategis karena berhadapan dengan jalur perdagangan internasional dan memiliki potensi pada sektor pelabuhan, industri, energi, perikanan, perkebunan serta berbagai sumber daya lainnya.
Namun potensi tersebut harus diterjemahkan ke dalam argumentasi yang terukur.
Semakin kuat kajian dan basis datanya, semakin kuat pula posisi politik perjuangan tersebut.
Karena itu, Afrianto menilai fase selanjutnya tidak boleh hanya dipenuhi slogan.
Perjuangan harus naik kelas: dari sekadar wacana menuju konsolidasi dan pembuktian.
Transparansi Menjadi Benteng dari Kecurigaan
Selain persatuan, Afrianto menempatkan transparansi sebagai fondasi penting.
Menurutnya, semakin tertutup sebuah gerakan, semakin mudah ruang kosong informasi diisi dengan rumor, spekulasi dan kecurigaan.
Sebaliknya, keterbukaan akan membuat masyarakat memahami apa yang sedang diperjuangkan dan sejauh mana prosesnya berjalan.
“Kalau ada pertemuan penting, masyarakat harus tahu substansinya. Kalau ada keputusan strategis, jelaskan kepada publik. Jangan sampai masyarakat hanya disuruh percaya tanpa diberikan informasi,” ujarnya.
Ia mendorong agar perkembangan perjuangan disampaikan secara terukur kepada masyarakat, termasuk terkait aspek administrasi, komunikasi politik, kajian akademik, dukungan daerah dan tahapan berikutnya.
Bagi Afrianto, keterbukaan bukan berarti seluruh strategi harus diumumkan secara mentah kepada publik. Namun masyarakat berhak mendapatkan gambaran yang jujur mengenai arah dan perkembangan perjuangan.
Tanpa transparansi, kepercayaan mudah runtuh.
Dan ketika kepercayaan runtuh, gerakan akan mudah dimasuki isu yang memecah persatuan.
Jangan Bereaksi karena Potongan Pesan WhatsApp
Di tengah derasnya arus informasi, Afrianto juga mengingatkan agar tokoh dan masyarakat tidak mudah terpancing oleh informasi yang belum terverifikasi.
Sebuah potongan pesan, tangkapan layar, percakapan grup atau kabar yang belum jelas sumbernya bisa menjadi pemicu konflik apabila langsung dipercaya.
“Jangan bereaksi hanya karena potongan informasi, pesan WhatsApp atau isu yang belum jelas sumbernya. Verifikasi dulu. Tanya langsung,” katanya.
Menurutnya, sebuah gerakan yang matang harus memiliki budaya komunikasi langsung.
Jika ada perbedaan, duduk bersama.
Jika ada informasi meragukan, periksa.
Jika ada kritik, jawab dengan argumentasi.
Bukan dengan saling menyerang.
Jangan Sibuk Berebut Kemudi
Afrianto kemudian menggunakan metafora kapal untuk menggambarkan situasi perjuangan Riau Pesisir.
Menurutnya, seluruh elemen saat ini sedang berada dalam satu kapal yang membawa harapan masyarakat menuju tujuan besar.
Masalah akan muncul ketika orang-orang di dalam kapal lebih sibuk memperebutkan kemudi daripada memastikan kapal tetap bergerak.
“Jangan sampai kapal yang sedang membawa cita-cita masyarakat Riau Pesisir justru pecah karena orang-orang di dalamnya sibuk berebut kemudi. Ketika kapal pecah, yang kenyang justru hiu,” ujarnya.
Afrianto menegaskan istilah “hiu” tersebut tidak diarahkan kepada kelompok atau individu tertentu.
Pesannya sederhana: setiap perpecahan akan selalu menciptakan pihak yang diuntungkan.
Karena itu, menurutnya, energi tidak perlu dihabiskan untuk mencari siapa “hiunya”.
Yang jauh lebih penting adalah memastikan kapalnya tidak pecah.
Kalau barisan solid, informasi terbuka dan tujuan perjuangan jelas, ruang untuk memecah masyarakat menjadi semakin sempit.
Perbedaan Boleh Keras, Persaudaraan Jangan Putus
Afrianto juga menegaskan bahwa persatuan bukan berarti seluruh tokoh harus memiliki pendapat yang sama.
Perbedaan bahkan diperlukan agar strategi perjuangan terus diuji dan diperbaiki.
Namun ada batas yang tidak boleh dilewati.
Perbedaan gagasan jangan berubah menjadi permusuhan pribadi. Kritik jangan berubah menjadi penghancuran karakter. Persaingan gagasan jangan berubah menjadi perebutan kepemilikan perjuangan.
“Kita tidak perlu semua orang berpikir sama. Yang penting tujuan akhirnya sama. Berbeda strategi boleh, berbeda pandangan boleh, tetapi jangan sampai perbedaan itu berubah menjadi permusuhan,” ujarnya.
Ini, menurutnya, menjadi ukuran kedewasaan sebuah gerakan.
Gerakan yang matang bukan gerakan tanpa perbedaan, melainkan gerakan yang mampu mengelola perbedaan tanpa menghancurkan tujuan bersama.
Riau Pesisir Bukan Milik Satu Tokoh
Afrianto kembali menegaskan bahwa perjuangan pembentukan Provinsi Riau Bagian Pesisir bukan milik satu figur, organisasi ataupun kelompok.
“Ini bukan proyek seseorang. Ini bukan milik satu organisasi. Ini adalah aspirasi masyarakat,” tegasnya.
Karena itu, siapa pun yang berada di dalam perjuangan harus menempatkan dirinya sebagai bagian dari proses, bukan sebagai pemilik proses.
Jika suatu hari Provinsi Riau Bagian Pesisir benar-benar terwujud, menurut Afrianto, ukuran sejarah bukanlah siapa yang paling sering tampil atau paling banyak mengklaim perjuangan.
Yang akan diuji adalah apakah generasi hari ini mampu menjaga persatuan, membangun argumentasi yang kuat dan menempatkan kepentingan rakyat di atas kepentingan pribadi.
Saatnya Satu Barisan
Perjuangan Riau Pesisir kini membutuhkan lompatan kualitas.
Semangat harus diterjemahkan menjadi strategi.
Aspirasi harus diperkuat kajian.
Dukungan masyarakat harus dikonsolidasikan.
Komunikasi politik harus dilakukan secara terukur.
Dan seluruh proses harus dijaga dengan transparansi.
Di atas semuanya, persatuan menjadi modal yang tidak bisa ditawar.
Sebab perjuangan besar tidak selalu gagal karena lawan terlalu kuat. Terkadang ia gagal karena orang-orang di dalamnya terlalu sibuk berkompetisi satu sama lain.
Riau Pesisir tidak membutuhkan lebih banyak panggung.
Riau Pesisir membutuhkan lebih banyak orang yang bekerja.
Tidak membutuhkan perlombaan mencari siapa yang paling berjasa.
Yang dibutuhkan adalah siapa yang sanggup menjaga barisan sampai tujuan.
Satu tujuan. Satu barisan. Riau Pesisir untuk kepentingan rakyat.
Jangan berebut panggung ketika perjalanan belum selesai. Jangan berebut kemudi ketika kapal masih berada di tengah laut. Yang terpenting hari ini adalah memastikan kapal tetap utuh dan seluruh rakyat sampai bersama ke pelabuhan cita-cita.
..........ditulis ulang oleh Iwang
.png)
.png)
.png)