Pagi itu kantor pemerintah terlihat seperti biasa.
Orang datang dan pergi membawa berkas.
Di sudut ruangan, seorang pegawai bernama Pak Arman duduk di meja kayunya yang sudah tua. Ia dikenal sebagai pegawai yang pendiam. Sudah hampir 25 tahun ia bekerja di sana.
Gajinya tidak besar.
Rumahnya sederhana.
Motornya pun sudah tua.
Suatu hari seorang kontraktor datang membawa proposal proyek pembangunan jalan desa.
“Pak, mohon dibantu agar berkas ini cepat disetujui,” katanya sambil tersenyum.
Saat berdiri hendak pergi, ia meninggalkan sebuah amplop tebal di atas meja.
Pak Arman menatap amplop itu lama.
Ia tahu isi amplop itu.
Uang.
Jumlahnya mungkin lebih besar dari gajinya beberapa bulan.
Di rumah, anaknya sedang butuh biaya kuliah.
Atap rumah juga bocor ketika hujan.
Tangannya sempat menyentuh amplop itu.
Namun tiba-tiba ia teringat kata-kata ayahnya dulu.
“Nak, hidup miskin itu tidak memalukan.
Tapi makan uang yang bukan hak kita, itu memalukan sampai mati.”
Pak Arman menarik napas panjang.
Ia berdiri, mengambil amplop itu, lalu berjalan keluar ruangan mengejar kontraktor tadi.
“Pak… ini tertinggal,” kata Pak Arman sambil menyerahkan amplop itu.
Kontraktor itu tersenyum tipis.
“Anggap saja ucapan terima kasih, Pak.”
Pak Arman menggeleng.
“Terima kasih tidak perlu pakai uang.”
Kontraktor itu terdiam.
Beberapa pegawai yang melihat kejadian itu hanya saling pandang. Mereka tahu apa yang baru saja ditolak Pak Arman.
Hari-hari berlalu seperti biasa.
Tidak ada berita.
Tidak ada penghargaan.
Tidak ada tepuk tangan.
Pak Arman tetap datang ke kantor dengan motor tuanya.
Namun bertahun-tahun kemudian, saat Pak Arman pensiun, sesuatu yang tidak pernah ia bayangkan terjadi.
Ruang aula kantor penuh.
Pegawai-pegawai muda berdiri memberi tepuk tangan.
Salah satu dari mereka berkata di depan semua orang:
“Pak Arman mungkin tidak pernah kaya. Tapi kami belajar satu hal dari beliau… bahwa kejujuran itu mungkin.”
Pak Arman hanya tersenyum kecil.
Ia pulang hari itu dengan langkah pelan.
Di rumah, cucunya berlari memeluknya.
Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Pak Arman merasa sangat kaya.
Bukan karena uang.
Tapi karena ia tidak pernah membuka amplop yang bukan miliknya. ✨
0 Comments