Malam itu listrik di rumah kecil Pak Rahman mati. Hanya cahaya lilin yang menerangi ruang tamu.
Di meja ada tumpukan uang.
Banyak sekali.
Pak Rahman menatap uang itu lama. Tangannya gemetar.
Siang tadi ia baru saja menerima uang itu dari seorang pengusaha yang ingin proyeknya disetujui.
“Anggap saja tanda terima kasih,” kata pengusaha itu sambil tersenyum.
Pak Rahman tahu… itu bukan terima kasih.
Itu suap.
Namun hidupnya memang sedang sulit. Anak sulungnya akan masuk kuliah. Tabungannya tidak cukup.
Ia duduk diam, menatap uang itu.
Tiba-tiba anak bungsunya, Rafi yang masih kelas 3 SD, keluar dari kamar.
“Ayah belum tidur?”
Pak Rahman cepat menutup uang itu dengan map.
“Iya… Ayah masih kerja.”
Rafi mendekat dan duduk di samping ayahnya.
“Ayah, hari ini di sekolah guru cerita tentang orang jujur.”
Pak Rahman tersenyum kecil.
“Oh ya?”
Rafi mengangguk.
“Kata guru, orang jujur itu walaupun miskin tetap hebat.”
Pak Rahman terdiam.
Rafi lalu berkata dengan mata berbinar.
“Ayah juga orang jujur kan?”
Pertanyaan itu terasa seperti petir di dada Pak Rahman.
Ia menatap anaknya.
Lalu perlahan membuka map itu lagi.
Tumpukan uang terlihat jelas di atas meja.
Untuk pertama kalinya malam itu, mata Pak Rahman berkaca-kaca.
Ia sadar satu hal:
Uang ini bisa membayar kuliah anaknya.
Tapi uang ini juga bisa menghancurkan contoh yang ia berikan kepada anaknya.
Pak Rahman menarik napas panjang.
Ia mengambil uang itu, memasukkannya kembali ke amplop.
Besok pagi ia mengembalikannya.
Beberapa hari kemudian, anaknya bertanya lagi.
“Ayah… uang kuliahku gimana?”
Pak Rahman tersenyum.
“Kita cari jalan yang halal.”
Anaknya memeluknya.
“Tidak apa-apa Yah. Yang penting Ayah tetap jadi orang jujur yang diceritakan guru.”
Pak Rahman memalingkan wajahnya sedikit.
Karena jika tidak, anaknya akan melihat air mata yang jatuh dari mata ayahnya.
Bukan karena sedih.
Tapi karena ia sadar…
Hari itu ia hampir saja kehilangan hal paling berharga dalam hidupnya: kehormatan di mata anaknya.
0 Comments